Ketika Waktu Berhenti di Jam 02.17
Hujan turun tanpa suara malam itu. Kota terlihat biasa saja, tapi bagi Arka, dunia terasa berbeda sejak pesan itu masuk pukul 02.17.
“Kalau suatu hari aku pergi tanpa pamit, kamu akan tetap mengingatku?” Pesan itu muncul di layar ponselnya—dari seseorang yang selalu ia kira akan tinggal.
Ia membacanya berulang kali, mencoba memahami maksudnya. Namun sebelum sempat membalas, nomor itu tak lagi aktif. Seolah-olah pengirimnya menghilang bersama hujan yang reda menjelang pagi.
Hari-hari berikutnya terasa seperti teka-teki. Arka kembali ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, berharap menemukan jejak yang tertinggal. Bangku taman, halte bus, kedai kopi kecil di sudut jalan— semuanya menyimpan kenangan, tapi tak satu pun memberi jawaban.
Sampai suatu malam, di waktu yang sama—02.17— ponselnya kembali menyala. Bukan pesan baru, bukan panggilan. Hanya notifikasi lama yang muncul kembali, seakan waktu memutar ulang kenangan yang belum selesai.
Dan di saat itu, Arka menyadari, mungkin tidak semua kepergian butuh penjelasan. Ada yang datang untuk meninggalkan cerita, bukan untuk tinggal selamanya.
✨ Beberapa orang hadir hanya untuk menjadi bab yang tak pernah selesai.
Baca Cerita Lain